Posts

"Entahlah, yang pasti, saya tidak menyesal kemarin ke Jakarta."

Halo! Halo! Saya mau cerita! :)) Dua minggu lalu saya ke Jakarta lho, tujuan utama: interview session untuk IKK Inc. Wedding organizer Jepang yang baru mau buka cabang di Indonesia. Hasilnya? Well , masih belum beruntung sih.  Anyway, highlight kepergian ke Jakarta sebenarnya tidak hanya itu. Saya bertemu beberapa teman masa SMA yang sudah bertahun-tahun tidak bersua. Menyenangkan.  Saya berangkat dari Jogjakarta pada hari Jumat bersama dengan salah satu teman yang kebetulan pulang ke Jakarta. Kami berangkat dari Terminal Jombor menggunakan bis ekonomi tanpa AC, 140k, yang memakan waktu hampir 16 jam. Okay, lain kali pakai kereta saja.  Di Jakarta saya turun di Terminal Pulo Gadung, sekitar pukul tujuh pagi. Saya duduk sebentar di salah satu warung kecil dan memesan segelas kopi Kapal Api panas. Ehehe. Lumayan, perjalanan kemarin malamnya itu sangat-sangat melelahkan dan hampir sepanjang perjalanan saya menahan muntah. Antimonya udah ndak nendang. Seperti ...

-

Ini adalah menyerah. Ini adalah undur dan menghapuskan jalan pulang. Menciptakan jarak bukan lagi sebuah pilihan; karena ia masih bisa aku hilangkan apabila ingin kembali. Kesalahan-kesalahan yang tidak sudi diakui; permintaan maaf yang dikabulkan setengah hati; kekeraskepalaan untuk menyimpan amarah; egoisme yang menjulang serupa tebing; rupanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Kesadaran, rupanya datang terlambat dengan kereta paling malam, hanya menyisakan wajah-wajah kebosanan yang terkantuk-kantuk. Apakah penyesalan itu sayang? “Berbahagialah!” kataku. Tanpa mendoakan. Karena keikhlasan tidak dibungkus sepaket dengan kata kerja melepaskan. Serupa nasib getir, perpisahan adalah lelucon kosmik. Langit senang bercanda dengan mementalkan rencana-rencana yang diam-diam aku kirim ke atas. Aku belajar untuk kompromi, tapi kecewa adalah karib amarah. Ah, sayang, mungkin kau tidak tahu, bahwa sulut amarah tidak serta merta mematikan cinta. Barangkali ini hanya aku ...

Kunang-Kunang

Akhir tahun, tengah malam, aku ditemukan oleh seorang perempuan. Dia membisikkan berita-berita paling palung dari dadanya: tentang kunang-kunang paling calak tempatnya berpulang. Seketika aku terkenang kunang-kunangku. Dari mata telingaku, perempuan itu terus merinaikan berita-beritanya. Cerita-cerita kecil. Gerimis-gerimis yang membikin lubang di dadaku –seperti di jalan-jalan raya dengan aspal berkualitas nomor sekian. Makin lama membesar. Makin lama mendalam. Lubang-lubang yang luap bahkan jadi perigi dengan air yang sungguh keruh. Aku mencintai kunang-kunangku. Sungguh mencintainya.  Malam itu banyak sekali kunang-kunang terbang, ada lima belas, berjatuhan menimpa keningku. Melesap ke dalam, mengirai-ngirai Ternyata, Kunang-kunang lahir dari rahim berita perempuan itu: Berita-berita dari dada paling palung yang memanggil mereka pulang. ****

Berbincang Dengan Diri Sendiri Pada Pukul Dua Pagi.

Jika bisa memilih tempat untuk bercakap-cakap dengan orang baru, kamu akan memilih di mana? Saya belum pernah ke taman. Mungkin taman saja. Taman yang luas sekali dengan rumput teki sebagai alasnya. Tidak pakai bangku atau kursi. Mereka membatasi gerak. Gelar tikar sajalah. Leluasa untuk melihat ke mana-mana. Leluasa pula untuk mengalihkan pembicaraan.

Should Friendship be Defined and Settled?

"Friendship is unnecessary, like philosophy, like art... It has no survival value; rather it is one of those things that give value to survival." -  C. S. Lewis What is friendship ? Seperti apakah hubungan pertemanan itu? Saya sendiri sudah lama sekali mempertanyakan hal ini. Perlu diketahui, saya ini   ndak   kenal sama yang namanya ‘teman masa kecil’, ‘geng SMA’, atau ‘ soulmate’ . Besar kemungkinan ini gara-gara gaya hidup nomaden yang saya lakukan sejak Kakek meninggal. Pindah-pindah sekolah dari kabupaten – pusat kota – kabupaten – kabupaten yang lebih terpencil – kota besar lain pulau. Hubungan pertemanan saya jadinya   ndak   awet. Baru saja mau dekat, malah harus pindah. Ibarat kata, kalau pertemanan itu adalah proses memanggang kue, kue saya belum matang dalam, eh sudah dikeluarkan dari oven. Itulah kenapa kadang saya bingung dengan ikatan emosional yang satu ini.  Unlike the romance relationship, friendship is undeclared. ...