Posts

tentu saja saya akan pulang ma.

pergi keluar dari liang ibu, jauh dari tanah kelahiran sendiri, jauh dari bau rumah dan keluarga. mencicipi tanah air daratan seberang. menghirup-hembuskan udara asing. asing dan berdepa-depa jauhnya dari tanah kampung sendiri. " tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.  merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.." banyak alasan seseorang untuk'minggat' dari rumah. nekat meninggalkan sarang paling nyaman. pun saya. euforia bangku kampus salah satunya. dulu, saya pikir, jauh dari rumah akan jadi hal gampang saja. terlebih saya bukan tipe anak yang selalu gelendotan dengan orang tua. saya yakin bakal senang-senang sajalah. 17 tahun tinggal di lingkungan yang sama, tentu saja 'bosan', hendak coba tanah orang; hendak lihat pemandangan lain daripada aspal depan rumah; hendak cicip makanan lain daripada lauk dibawah tudung saji dapur sendiri; hendak tidur di bawah atap kamar rumah asing. perkara ini awalnya sangat-sanga...

a trip to bromo, melarikan diri dari dunia jogja.

Image
baiklah pemirsa. liburan kali ini walaupun saya tak mampu kembali ke haribaan ibunda, setidaknya saya melakukan beberapa hal yang menyenangkan bersama orang-orang yang menyenangkan pula. sepulangnya dari solo, alias rumah yayi, saya melanjutkan liburan dengan rencana dari si pacar, bromo. atas bantuan myke, kami berhasil bulan baruan di gunung penanjakan bromo, yang dinginnya masya Allah. tapi cantiknya juga, subhanallah. perjalanan ke bromo kali ini diprakarsai ide si pacar, katanya: "rencana awal sih sama temen, berdua. tapi, kalo nggak ngajak kamu, ntar kamu ngambek lagi." haha. for sure monsieur, pilihan yang tepat sekali. nah, jadilah, dia awalnya bertanya pada myke gimana caranya ke bromo, eh, ternyata, si myke malah excited pengen ikut juga. si myke sms saya, saya nawarin yayi, yayi mau, kita sebarin di Line, ternyata di iteng juga mau. jadilah kami berenam; saya, ari, myke, yayi, iteng, dan luca (temennya ari), ramai-ramai ke bromo. hehe. pada kesempatan pertama...

mama dan pacar

baiklah, karena modem saya lagi waras, entah karena memang ada angin kencang malam ini sehingga sinyal nyangkut di kamar saya atau entah bagaimanalah ya, pokoknya saya bisa internetan. *terharu* malam ini, saya mau cerita tentang mama, dan pacar. saya bukan tipe anak yang selalu bercerita apa saja ke ibunya. bahkan boleh dibilang, saya jarang cerita sama mama, hubungan saya dengan mama jadi jauh lebih baik saat saya kuliah. entah bagaimana, langit punya ceritanya. hem, waktu saya SMP dan SMA, saya gak pernah cerita mengenai kehidupan asmara *halah* saya sama beliau. selain karena memang beliau sejatinya ndak ngijinin saya pacaran -orang tua mana yang mengiyakan anak gadisnya yang masih bau kencur pacaran-- jadi saya gak berani cerita, bahkan sampai SMA, mama gak tahu siapa pacar saya. haha. padahal si (mantan) pacar saya waktu itu sering lho ke rumah. mama tidak bertanya, saya juga ndak inisiatif buat bilang. tapi, setelah kuliah, semua berubah *halah* , mungkin karena bahwa sa...

akhir-akhir ini.

akhir akhir ini saya sering marah. kesal. kadar toleransi terhadap sesuatu yang menyebalkan makin berkurang. saya bisa marah gara-gara hal sepele, sama orang-orang terdekat. kenapa ya? apa gara-gara UAS? saya ndak tahu. atau mungkin gara-gara saya ndak bisa pulang liburan UAS ini? oh, ternyata saya cuma lagi PMS.

sekarang sudah resmi disebut tahun lalu kan --2012 itu--?

baiklah, sekarang saya hendak menulis mengenai 2012. karena dia sudah lampau, dia berkualifikasi masuk kotak kenangan. saya pilah-pilih cerita yang sudah saya tamatkan untuk masuk ke beberapa kotak. ada yang besi, ada yang kayu. karena seperti kata seorang teman, masukkan hal-hal bahagia di kotak besi bercampur alumunium, agar tahan lama dia, tidak berkarat tidak menguap.masukkan hal-hal buruk dan menyedihkan ke kotak kayu, biar dia melarut seiring waktu. tahun 2012 saya, diawali di pantai parangtritis bersama teman-teman, gulita, hujan dan terpal berwarna biru. kurang lebih  seperti itu. setelah itu, waktu berlalu.   kadang, dia berjalan perlahan. seperti pendaki gunung yang melintasi padang rumput. sejenak menapak, sesekali memandang sekitar, jauh ke depan, menoleh ke belakang. atau kadang pula tersengal-sengal  seperti   ada tanjakan maha curam. naik sejejak, melorot dua langkah. berpegangan pada apapun yang terlihat kuat. kadang benar pada akar liat, kadang...